Tapi disini aku tahu setiap sapaan pagi,
setiap ajakan,
oh! soto ojolali,
sesaat sebelum berangkat.
2010
Tapi disini aku tahu setiap sapaan pagi,
setiap ajakan,
oh! soto ojolali,
sesaat sebelum berangkat.
2010
Tak bedanya aku dengan bocah yang merengek minta dibelikan balon,
sore itu aku memintamu,
agar kau bersedia kuantar pulang,
tepat pukul 21.00
Tapi mungkin kau akan datang telat,
gara-gara pengunjung yang bandel,
aku baru ingat itu karena sekarang hari Minggu,
pengunjung akan datang lebih ramai.
Sementara di meja kassa, kulihat pembeli rela mengantri, menunggu untuk bisa kau layani, dengan ramah senyummu yang hangat, sehangat kasih sayang Ibu, kasih sayang Ibu yang tak terhingga, kasih sayang Ibu yang selalu kukenang, kasih sayang Ibu yang mengajari aku agar tetap terus bersabar seperti langit biru, setelah kubaca pesan terakhir darimu, 'udah djmpt da aku'.
Balon pun meledak tepat ketika langit tak lagi biru.
JULI, 2010
Sebut saja ini adalah sebuah perjalanan,
saat kau menumpahkan merahmu,
merah yang sederhana,
merah yang menyala,
merah yang kau tanam hingga membara,
di dalam ingatan, diatas meja,
seperti senja itu,
ketika angin berhembus kencang,
mengacaukan rambutmu juga rambutku,
sama-sama mata kita tertutup,
sama-sama kita tersamarkan dalam masa yang mengurung,
masa yang telah menemukanku sendiri dalam sepi,
sepi yang terus bertahan dengan tabah,
yang membentuk ingatan tentang kebahagian-kebahagian kecil, meski ku tahu kau tak butuh itu,
meski ku tahu kau tak akan ingat itu,
namun telah kukenal hatimu yang jauh lebih sejuk dari udara di senja itu,
dan dadamu terlihat jauh lebih subur dari hamparan rumput di depan meja kita,
aku ingin berada di senja itu,
di dadamu,
hingga pekat merahmu ini menyerupai senja.
-akhir perjalanan sebentuk kerinduan.
MEI 2011
Berapa usiamu?
Hingga kau bisa memacu waktuku,
dimana sapaan sederhana selalu kita tinggalkan,
atau obrolan ringan tentang resep membuat minuman teh hangat dengan jeruk nipis yang pernah kau berikan.
Hey apa ada yang masih tertinggal jauh di belakang sana?
mungkin hanya jarak yang belum menyempatkan dirinya tuk membawa gerimis menuju indahnya,
dimana bias pelangi bisa bicara sejujurnya.
MEI 2011
Bagaimana mungkin aku bisa lupa alamat rumahmu,
yang semalam lalu kau coba tinggalkan lagi jejaknya,
dalam gelembung-gelembung segelas bir,
yang menjelma menjadi ribuan kunang-kunang yang menyala-nyala panjang.
Nyalanya yang terus berkedip-kedip adalah isyarat rahasia yang menunggunya untuk direguk.
Mari kita minum,
mari kita rayakan pertemuan kita yang kecut,
sebelum padam nyalanya,
sebelum musnah rasanya,
sebelum kita lupa sebenar-benarnya.
JUNI 2011
Dari deterjen dan kopi,
Aku jumpa kamu pagi ini, perempuan.
Yang tersenyum wajar, sewajar-wajarnya.
Bunyi laci mesin kasir itu seperti sebuah isyarat yang memulangkan aku kembali ke rumah.
Padahal, belum kupunya nama dan tubuhmu, yang ada hanya segelas kopi dan bunyi suara mesin cuci.
Sementara waktu selalu berjalan terburu-buru,
membentang rekam adegan di dalam kepala,
hingga akhirnya melahirkan sajak,
satu per satu cerita bermunculan, sementara bau tubuhmu segera menguap. Hilang!
JUNI 2011