Sabtu, 15 Januari 2011

Madame X: Superhero ala Nia Dinata

Menonton film Madame X sudah seperti menonton film Indonesia di tahun 90-an atau mungkin kalian masih ingat dengan film Saras 008 di awal tahun 2000-an, nah, mungkin film ini tidak jauh berbeda, terutama dari efek visual yang ditampilkan, bicara tentang efek visual, saya tidak akan pernah membandingkan film Indonesia dengan film-film Hollywood, tapi setidaknya kita bisa belajar dari keberhasilkan film-film seperti Slumdog Millionaire, My Name is Khan atau 3 Idiots. Bukan lagi bicara tentang efek visual tapi tentang konsistensi bagaimana seharusnya memilih genre?
Produser dan Sutradara Nia Dinata selalu mengangkat tema yang berbeda dan seringkali menuai pro dan kontra di masyarakat, film terbarunya Madame X juga mengangkat tema yang tidak kalah menariknya, yaitu tentang kaum transgender, kaum yang seringkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ide cerita film ini sendiri didapat dari Aming, yang juga berperan sebagai Adam, tokoh utama yang menjadi superhero dalam film Madame X.
Film yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi ini adalah film panjang pertamanya, sebelumnya sutradara lulusan Art Center College of Design Los Angeles ini pernah bekerja sama dengan Nia Dinata, saat menggarap film dokumenter berjudul Nona Nyonya? Begitu juga dengan dua penulis skenario Madame X, Agasyah Karim dan Khalid Kashoogi, keduanya pun pernah bekerja sama dengan Nia Dinata sebagai sutradara, saat menggarap film Gara-gara Bola.
Nia Dinata selaku produser, punya pesan yang gagah dari film Madame X, menurutnya semua orang bisa menjadi pahlawan, kita semua harus bersama-sama, media, pembuat film, seniman, dan semua lapisan masyarakat, menurutnya kita gak bisa lagi mengandalkan pemerintah, masing-masing harus punya kekuatan untuk melakukan sesuatu, termasuk kaum transgender, masing-masing dari kita harus berkarya, karena semua itu adalah tentang kesetaraan HAM. Namun patut disayangkan, pesan yang dikatakan Nia itu tidak segagah dengan filmnya, superhero yang divisualisasikan Nia masih kurang berhasil membuat penonton menaruh simpati padanya, ditambah alur cerita yang dibuat lamban dan banyak adegan-adegan yang muncul tanpa sebab.
Skenario yang ditulis oleh Agasyah Karim dan Khalid Kashoogi juga terkesan terlalu dipaksakan, karena tidak ada panduan teoritis dan teknis yang memadai, sehingga karya yang tercipta adalah sebuah karya yang tidak bisa memenuhi standar yang dituntut industri perfilman, proporsional tidak, abstrak pun bukan, malah terkesan seperti menggapangkan, tokoh bernama Bunda Ratu (Titi DJ), Bunda Lilis (Sarah Sechan), dan Kinky Amalia (Shanty) misalnya, tiba-tiba saja datang menghadang Adam (Aming) tanpa ada alasan sebab yang kuat, seolah mereka bertiga hanya menjadi tokoh tempelan saja, apa hanya karena mereka adalah istri dari Kanjeng Badai (Marcel)? Semudah itukah mereka menjadi musuh Adam? Disini tidak ada proses yang meyakinkan cerita, penulis mungkin menyadari kesalahannya itu, sehingga dibuatlah lomba menulis prequel dari cerita film ini, tapi apapun itu, kita selalu berharap perfilman Indonesia bisa semakin lebih baik

Hello Stranger: Karena Kita Tidak Kenal

Sudah duduk manis di dalam bioskop, saya masih gak tahu film apa yang akan saya tonton, judulnya pun lupa-lupa ingat, saya gak peduli film ini jelek atau keren, belum sempat juga saya baca sinopsis atau info tentang film ini, akh yang penting enjoy saja, lumayan kan dapat tiket gratis. Hahaha…
Ternyata ini film Thailand, jarang sekali saya menonton film Thailand, apalagi ini film drama komedi romantis, dengan tokoh-tokoh yang tidak saya kenal sebelumnya, akh saya pikir film ini ini gak kan beda jauh dengan film-film korea yang biasa tayang di tv, bukan berarti saya penggemar berat film korea, tapi justru saya jadi semakin penasaran, apa sih yang bikin kebanyakan para cewek menyukai film korea? Sampai pada mewek segitunya, pertanyaan itu akhirnya bisa kejawab juga saat saya selesai menonton film Hello Stranger.
Benarkah kita bisa merasa lebih terbuka ketika berhadapan dengan orang asing? Orang yang jauh dari kehidupan pribadi kita, film yang disutradarai Banjong Pisanthanakun ini adalah karya film bergenre drama romantis yang pertama baginya, sebelumnya Banjong Pisanthanakun lebih sering menggarap film-film horror, seperti Shutter, Alone, dan Phobia, biar demikian film Hello Stranger ini tetap menarik untuk ditonton, kemampuan Banjong dalam mengolah rasa penonton sudah tidak diragukan lagi, Ia mampu menghadirkan chemistry diantara kedua tokohnya, dengan cerita yang ringan, segar dan tentunya menghibur.
Berawal dari seorang wanita (diperankan oleh Nuengtida Sopon) yang pergi berlibur ke Korea Selatan untuk menghadiri pernikahan sahabatnya, secara tidak sengaja si wanita ini bertemu dengan seorang pemuda (diperankan Chantawich Tanasewi), yang mengikuti paket wisata ke Korea, mereka ternyata bernasib sama, sama-sama orang Thailand yang sama-sama patah hati dan sama-sama berlibur sendiri di negeri orang (Korea).
Mereka bertemu saat si wanita menemukan si pemuda itu tergeletak di depan penginapannya, si pemuda yang mabuk itu akhirnya sadar, karena lupa jalan menuju hotel, si pemuda itu lalu meminta pada si wanita untuk mengantarkannya kembali ke hotel, disinilah mereka mulai menghabiskan waktu bersama, saat rombongan travel yang membawa si pemuda itu telah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Si pemuda yang tidak pandai mengatakan perasaan, tapi punya pikiran yang cerdas, juga si gadis yang sangat sensitif, tapi selalu ingin menjaga citra sebagai gadis yang baik-baik, keduanya bisa saling membuka diri dan saling bercerita, saat keduanya sama-sama patah hati. Si gadis yang baru diputusin pacarnya dan si pemuda yang tak pernah mendapat kabar dari kekasihnya.
Mereka terus menghabiskan waktu bersama dengan berkelahi dan bersenang-senang di Korea, mereka berpikir kalau mereka hanya akan menjadi teman singkat saja, karena itu keduanya pun tidak saling memberikan nama, mereka takut kalau hal-hal gila yang mereka lakukan bersama diketahui oleh semua orang. Hal-hal gila yang sebenarnya bisa membuat mereka nyaman dan menjadi diri mereka sendiri.
Biarpun mereka tetap coba menjaga jarak, toh mereka tetap tidak menyadari kalau benih-benih cinta perlahan mulai tumbuh, mereka pun tidak pernah membayangkan sebelumnya, bagaimana perasaan mereka berdua setelah akhirnya mereka harus berpisah?
Film ini mengalir ringan dengan emosional yang muncul natural, cerita pun tetap konsisten dengan tetap fokus pada kisah cinta dua orang asing yang berlibur bersama dan akhirnya saling jatuh cinta. Adegan yang disuguhkan pun berhasil memancing tawa, gak ketinggalan juga adegan romantis yang terasa begitu manis.