Menonton film Madame X sudah seperti menonton film Indonesia di tahun 90-an atau mungkin kalian masih ingat dengan film Saras 008 di awal tahun 2000-an, nah, mungkin film ini tidak jauh berbeda, terutama dari efek visual yang ditampilkan, bicara tentang efek visual, saya tidak akan pernah membandingkan film Indonesia dengan film-film Hollywood, tapi setidaknya kita bisa belajar dari keberhasilkan film-film seperti Slumdog Millionaire, My Name is Khan atau 3 Idiots. Bukan lagi bicara tentang efek visual tapi tentang konsistensi bagaimana seharusnya memilih genre?
Produser dan Sutradara Nia Dinata selalu mengangkat tema yang berbeda dan seringkali menuai pro dan kontra di masyarakat, film terbarunya Madame X juga mengangkat tema yang tidak kalah menariknya, yaitu tentang kaum transgender, kaum yang seringkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ide cerita film ini sendiri didapat dari Aming, yang juga berperan sebagai Adam, tokoh utama yang menjadi superhero dalam film Madame X.
Film yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi ini adalah film panjang pertamanya, sebelumnya sutradara lulusan Art Center College of Design Los Angeles ini pernah bekerja sama dengan Nia Dinata, saat menggarap film dokumenter berjudul Nona Nyonya? Begitu juga dengan dua penulis skenario Madame X, Agasyah Karim dan Khalid Kashoogi, keduanya pun pernah bekerja sama dengan Nia Dinata sebagai sutradara, saat menggarap film Gara-gara Bola.
Nia Dinata selaku produser, punya pesan yang gagah dari film Madame X, menurutnya semua orang bisa menjadi pahlawan, kita semua harus bersama-sama, media, pembuat film, seniman, dan semua lapisan masyarakat, menurutnya kita gak bisa lagi mengandalkan pemerintah, masing-masing harus punya kekuatan untuk melakukan sesuatu, termasuk kaum transgender, masing-masing dari kita harus berkarya, karena semua itu adalah tentang kesetaraan HAM. Namun patut disayangkan, pesan yang dikatakan Nia itu tidak segagah dengan filmnya, superhero yang divisualisasikan Nia masih kurang berhasil membuat penonton menaruh simpati padanya, ditambah alur cerita yang dibuat lamban dan banyak adegan-adegan yang muncul tanpa sebab.
Skenario yang ditulis oleh Agasyah Karim dan Khalid Kashoogi juga terkesan terlalu dipaksakan, karena tidak ada panduan teoritis dan teknis yang memadai, sehingga karya yang tercipta adalah sebuah karya yang tidak bisa memenuhi standar yang dituntut industri perfilman, proporsional tidak, abstrak pun bukan, malah terkesan seperti menggapangkan, tokoh bernama Bunda Ratu (Titi DJ), Bunda Lilis (Sarah Sechan), dan Kinky Amalia (Shanty) misalnya, tiba-tiba saja datang menghadang Adam (Aming) tanpa ada alasan sebab yang kuat, seolah mereka bertiga hanya menjadi tokoh tempelan saja, apa hanya karena mereka adalah istri dari Kanjeng Badai (Marcel)? Semudah itukah mereka menjadi musuh Adam? Disini tidak ada proses yang meyakinkan cerita, penulis mungkin menyadari kesalahannya itu, sehingga dibuatlah lomba menulis prequel dari cerita film ini, tapi apapun itu, kita selalu berharap perfilman Indonesia bisa semakin lebih baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar